Proyek Pendidikan, Ancaman Keselamatan: Jalan Dipenuhi Debu dan Lumpur Mematikan

Table of Contents


Bone - Pembangunan Sekolah Rakyat di Kelurahan Bajoe, tepatnya di Dusun Rompe, kini berada dalam sorotan serius. Berdasarkan penelusuran lapangan, proyek tersebut diduga tidak menerapkan standar keselamatan kerja dan lingkungan, sehingga berdampak langsung terhadap pengguna jalan dan warga sekitar.


Saat di investigasi menemukan bahwa material tanah timbunan dari proyek berserakan di badan jalan poros Barebbo–Bajoe, khususnya di wilayah Rompe. Tidak terlihat adanya sistem pengamanan seperti penutup material, penyiraman rutin, maupun pembersihan jalan yang semestinya menjadi prosedur dasar dalam pekerjaan konstruksi.


Kondisi tersebut menimbulkan dua situasi berbahaya yang terjadi secara bergantian. Saat cuaca kering, debu dari tanah timbunan beterbangan setiap kali kendaraan melintas. Selain mengganggu jarak pandang, debu ini juga berpotensi mengancam kesehatan warga. Beberapa warga sekitar mengaku mulai merasakan dampaknya, mulai dari batuk hingga gangguan pernapasan ringan.

Salah seorang warga Rompe, Asriadi alias Parkit, menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak dapat dibiarkan terus berlangsung. Ia menyebut dampak proyek sudah dirasakan langsung oleh masyarakat setiap hari.

“Ini bukan lagi soal terganggu, tapi sudah membahayakan. Kami yang tiap hari lewat di sini yang paling merasakan. Kalau hujan licin sekali, kalau panas debunya tebal. Harus ada tanggung jawab dari pihak proyek,” tegasnya.


Lebih jauh, investigasi ini juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap proyek. Tidak ditemukan rambu peringatan yang memadai di sekitar lokasi, serta minimnya upaya mitigasi risiko bagi pengguna jalan. Padahal, proyek yang berada di jalur publik seharusnya memiliki standar pengamanan yang ketat untuk mencegah potensi kecelakaan.


Sejumlah pihak mempertanyakan komitmen pelaksana proyek dalam menjalankan tanggung jawabnya. Dugaan kelalaian ini tidak hanya mencerminkan buruknya manajemen lapangan, tetapi juga membuka kemungkinan adanya pengabaian terhadap regulasi keselamatan konstruksi.


Hingga saat ini, belum terlihat langkah konkret dari pihak terkait untuk mengatasi persoalan tersebut. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka potensi kecelakaan bukan lagi sekadar risiko, melainkan tinggal menunggu waktu.


Masyarakat mendesak adanya evaluasi menyeluruh, mulai dari pelaksana proyek hingga pengawasan dari instansi berwenang. Pembangunan fasilitas pendidikan semestinya menjadi simbol kemajuan, bukan justru menghadirkan ancaman baru bagi keselamatan publik.