Gelombang Protes Menguat, Kebijakan Lurah Manurungnge Picu Ancaman Mogok dan Demonstrasi

Table of Contents

 


Bone – Ketegangan di Kelurahan Manurungnge kian memanas. Sejumlah kepala lingkungan bersama satuan tugas (satgas) kebersihan meluapkan kekecewaan mendalam terhadap kepemimpinan Lurah Manurungnge, Syamsiar, S.Pd., yang dinilai bertindak sepihak dan tidak berkeadilan.


Pemicu utama gejolak ini adalah keputusan pemecatan terhadap dua anggota satgas kebersihan dengan alasan merangkap pekerjaan. Namun, alasan tersebut dibantah keras oleh para satgas yang bersangkutan. Mereka menegaskan bahwa selama ini tidak memiliki pekerjaan lain dan sepenuhnya menggantungkan hidup dari tugas kebersihan yang mereka jalani.


“Ini bukan sekadar pemecatan, ini bentuk ketidakadilan. Kami merasa dizalimi,” tegas Adi Suradi, salah satu narasumber, dengan nada penuh kekecewaan.


Situasi semakin memanas ketika keputusan tersebut diambil di tengah aktivitas penting, yakni pembersihan situs bersejarah Manurungnge ri Matajang. Lokasi tersebut tengah dipersiapkan untuk kegiatan ziarah makam dalam rangka peringatan Hari Jadi Bone ke-696. Para satgas yang diberhentikan justru merupakan bagian dari tim yang aktif bekerja di lapangan saat itu.


Musbir, narasumber lainnya, menilai kebijakan tersebut tidak hanya melukai rasa keadilan, tetapi juga berpotensi mengganggu persiapan kegiatan penting daerah.

“Bagaimana mungkin orang yang sedang bekerja justru diberhentikan di tengah tugasnya? Ini bukan hanya soal pekerjaan, ini soal tanggung jawab terhadap daerah,” ujarnya.


Dari total lima kepala lingkungan di Kelurahan Manurungnge, empat di antaranya secara terbuka menyatakan penolakan terhadap kebijakan lurah. Mereka bersama satgas kebersihan kini bersatu dalam satu sikap: menuntut kejelasan dan keadilan.


Tidak berhenti pada protes lisan, gelombang perlawanan mulai mengarah pada aksi nyata. Para kepala lingkungan dan satgas kebersihan mengancam akan melakukan demonstrasi besar-besaran serta mogok kerja jika keputusan tersebut tidak segera ditinjau ulang.


Ancaman mogok kerja ini tentu bukan hal sepele. Dampaknya berpotensi melumpuhkan layanan kebersihan di wilayah tersebut, terlebih di momen krusial menjelang peringatan hari jadi Kabupaten Bone.


“Kalau suara kami terus diabaikan, kami tidak punya pilihan selain turun ke jalan. Kami siap mogok,” tegas salah satu perwakilan kepala lingkungan.


Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Lurah Manurungnge terkait polemik yang kian memanas ini. Namun satu hal yang pasti, kepercayaan di tingkat akar rumput sedang diuji, dan jika tidak segera direspons dengan bijak, konflik ini berpotensi meluas dan semakin sulit dikendalikan.