Menteri Agama RI Pantau Latihan Orkestra Santri Al Ikhlas Ujung Bone, Dukung Konser Lintas Agama di Watampone

Table of Contents


Bone – Di sela agenda kunjungan kerjanya, Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar, menyempatkan diri memantau langsung proses latihan Orkestra Santri Al Ikhlas Ujung Bone yang tengah mempersiapkan diri untuk Konser Lintas Agama yang akan digelar pada 14 Februari 2026 mendatang di Lapangan Merdeka Watampone.

Kehadiran Menteri Agama di tengah para santri yang sedang berlatih menghadirkan suasana hangat dan penuh semangat. Dengan penuh perhatian, Prof. Nasaruddin Umar menyaksikan alunan nada yang dimainkan para santri—sebuah harmoni yang tidak hanya memadukan instrumen musik, tetapi juga menyatukan semangat kebersamaan dan toleransi.

Konser kolaboratif bertema “Keberagaman Agama dalam Harmoni Budaya” ini dirancang sebagai ruang perjumpaan lintas iman dan lintas komunitas melalui medium seni dan musik. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari komunitas keagamaan, pelaku seni, hingga elemen masyarakat di Kabupaten Bone.

Dalam konser tersebut, Orkestra Santri Al Ikhlas Ujung akan tampil berdampingan dengan paduan suara lintas agama, mencerminkan nilai moderasi beragama yang terus digaungkan Kementerian Agama. Selain itu, panggung juga akan diramaikan oleh penampilan Saoraja Art, Unilampa, Ninu-Ninu, serta sejumlah kelompok seni lainnya yang siap menghadirkan ragam hiburan musikal bagi masyarakat Bone.

Momentum ini dinilai bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan simbol kuat bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk berkarya bersama. Justru melalui kolaborasi budaya, pesan damai dan persaudaraan dapat disampaikan secara lebih menyentuh dan membumi.

Kunjungan Menteri Agama ke lokasi latihan menjadi bentuk dukungan nyata terhadap inisiatif lokal yang mengedepankan nilai toleransi dan persatuan. Di tengah dinamika sosial yang kerap diwarnai perbedaan, konser lintas agama ini diharapkan menjadi peneguh bahwa harmoni dapat dirawat melalui dialog, kolaborasi, dan karya nyata.

Konser yang akan digelar di ruang terbuka Lapangan Merdeka Watampone tersebut diproyeksikan menjadi perhelatan budaya yang inklusif—mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk hadir, menikmati, dan merayakan keberagaman dalam satu panggung kebersamaan.