Kolaborasi Lintas Iman dan Budaya Warnai Malam Konser Lintas Agama
Bone - Konser Lintas Agama yang mengusung tema “Keberagaman Agama dalam Harmoni Budaya” menjadi penanda penting tumbuhnya ruang dialog kultural di Kabupaten Bone. Di tengah dinamika sosial yang kerap diwarnai sekat-sekat identitas, panggung yang berdiri megah di Lapangan Merdeka Watampone justru menghadirkan narasi berbeda: keberagaman bukan untuk dipertentangkan, melainkan dirayakan dalam irama dan nada.
Sejak senja mulai turun, ribuan pasang mata memadati kawasan pusat kota itu. Mereka datang dari berbagai latar belakang, usia, dan keyakinan, menyatu dalam satu tujuan: menyaksikan harmoni lahir dari perjumpaan lintas iman. Atmosfer yang tercipta bukan sekadar hiburan, tetapi pengalaman emosional yang menyentuh ruang batin.
Orkestra Santri Al Ikhlas Ujung tampil dengan komposisi yang sarat nuansa religius dan kearifan lokal. Denting biola dan tiupan alat musik tiup berpadu dengan ketukan perkusi tradisional, menghadirkan lanskap bunyi yang reflektif sekaligus megah. Di sisi lain panggung, paduan suara lintas agama menyuarakan lagu-lagu bertema budaya, persaudaraan dan persatuan. Perpaduan itu menghadirkan simbol kuat bahwa iman dan budaya dapat berjalan beriringan tanpa kehilangan jati diri masing-masing.
Panggung juga diramaikan oleh penampilan enerjik dari Saoraja Art, Unilampa, dan Ninu-Ninu, yang menyuguhkan eksplorasi seni tradisi dengan sentuhan kontemporer. Koreografi yang dinamis, kostum bernuansa etnik, serta tata artistik yang tertata apik mempertegas bahwa kebudayaan Bone memiliki daya hidup yang inklusif dan adaptif.
Konser kolaboratif ini tidak hanya melibatkan komunitas keagamaan, tetapi juga pelaku seni, akademisi, pemuda, hingga elemen masyarakat luas. Semua terlibat dalam satu ekosistem kreatif yang menempatkan seni sebagai medium dialog sosial. Tidak ada sekat di antara kursi penonton, tidak ada jarak di antara perbedaan; yang ada hanyalah tepuk tangan panjang yang menggema setiap kali satu penampilan usai.
Dr. Sn. Ichsan, S.Pd., M.Sn, yang memotori kegiatan tersebut, menegaskan bahwa konser ini dirancang sebagai ruang perjumpaan yang otentik. Ia menyampaikan bahwa seni memiliki kekuatan transformatif untuk merawat kebinekaan dan memperkuat kohesi sosial. Menurutnya, keberagaman adalah realitas sosial yang harus dikelola dengan pendekatan kultural, bukan sekadar wacana normatif. “Ketika musik dimainkan bersama, kita belajar bahwa harmoni lahir bukan karena semua nada sama, tetapi karena perbedaan itu disusun dengan kesadaran dan rasa saling menghargai,” ungkapnya.
Bagi masyarakat Bone, konser ini menjadi lebih dari sekadar pertunjukan. Ia menjelma sebagai pesan kolektif bahwa toleransi bukan slogan, melainkan praktik nyata yang dapat dirasakan bersama. Lapangan Merdeka malam itu menjadi saksi bahwa harmoni bukan utopia, melainkan kemungkinan yang bisa diwujudkan ketika seni, iman, dan budaya saling menyapa dalam satu panggung yang sama.


